Modul Ajar Tema Kebekerjaan-Literasi Digital - SMKS BM Harapan Stabat - Suliadi,S.Pd


MODUL AJAR SISWA TEMA KEBEKERJAAN
SMKS BM HARAPAN STABAT

 

BAB I PENDAHULUAN
LITERASI DIGITAL

 

A. PENGERTIAN LITERASI DIGITAL
Secara etimologis literasi berasal dari bahasa latin Littera yang memiliki pengertian
sistim tulisan yang menyertainya, literasi adalah hak asasi manusia yang fundamental dan
pondasi untuk belajar sepanjang hayat. 1 Literasi adalah jembatan untuk adaptasi,
membawa informasi yang dipahami ke dalam berbagai situasi. 2 Literasi adalah melek
membaca, menulis, dan numeric, yang merupakan tiga keterampilan untuk kecakapan
hidup. 3 Dari beberapa pengertian tersebut secara sederhana dapat disimpulkan literasi
adalah kemampuan dan keterampilan belajar, penyesuaian dengan lingkungan, yang
dimiliki manusia untuk memahami informasi sebagai dasar untuk belajar sepanjang hayat.
Sedangkan kata digital berasal dari kata digitus, dalam bahasa yunani yang berarti jarijemari. Apabila jari-jemari seseorang dihitung, maka akan berjumlah sepuluh (10). Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0. Oleh karena itu, digital merupakan penggambaran suatu kondisi bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau off dan on (sitem bilangan biner), dapat juga disebut dengan istilah bit (binary digit).
Pengertian literasi digital adalah ketertarikan, sikap dan kemampuan individu dalam
menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola,
mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan
baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara
efektif dalam masyarakat. 4. literasi digital adalah satu rangkaian kekuatan yang paling
mendasar untuk mengoperasionalkan peranti komputer dan internet. 5 Dari beberapa
pengertian di atas dapat ditarik suatu kesimpulkan literasi digital adala h kemampuan
memahami dan menggunakan perangkat digital atau penggunaan sumber informasi online
untuk membangun pengetahuan baru serta mengakses dan berkomunikasi dengan orang
lain dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini penekanan literasi digital difokuskan pada bagaimana peserta didik dalam menggunakan informasi online dan berkomunikasi online dapat memilki sikap kritis serta mempunyai kompetensi dan pemahaman berliterasi digital dengan mampu mencari,mengakses, menyaring informasi dengan benar dalam rangka peningkatkan kwalitas dan kreatifitas belajar peserta didik.


B. PRINSIP DASAR LITERASI DIGITAL
Prinsip dasar literasi digital Menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan
Digital dalam Literasi Digital (2018), literasi digital memiliki empat prinsip dasar, yaitu:
1. Pemahaman Artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami
2. Saling ketergantungan Artinya antara media yang satu dengan lainnya saling
bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling berdampingan serta
melengkapi antara satu sama lain.
3. Faktor sosial Artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada
masayrakat. Karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi
serta penerima informasi.
4. Kurasi artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami
serta menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari. Kurasi juga termasuk
kemampuan bekerja sama untuk mencari, mengumpulkan serta mengorganisasi


C. MANFAAT LITERASI DIGITAL
1. Kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan
2. Kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami
3. Menambah penguasaan „kosa kata‟ individu, dari berbagai informasi yang
di baca.
4. Meningkatkan kemampuan verbal individu.
5. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu.
6. Menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat serta
menulis informasi.


D. CONTOH LITERASI DIGITAL
Contoh literasi digital Literasi digital bisa diterapkan di mana saja, yakni di
Berikut beberapa contoh penerapan literasi digital :
1. Literasi digital di sekolah, Komunikasi dengan guru atau teman menggunakan
media sosial.
a. Mengirim tugas sekolah lewat e-mail.
b. Pembelajaran dengan cara online, yakni lewat aplikasi ataupun web.
c. Mencari bahan ajar dari sumber tepercaya di internet.
2. Literasi digital di rumah, Melakukan penelusuran dengan menggunakan browser.
a. Mendengarkan musik dari layanan streaming resmi.
b. Melihat tutorial memasak dari internet.
c. Menggunakan laptop yang tersambung ke internet untuk mengerjakan tugas
atau pekerjaan.
3. Literasi digital di lingkungan masyarakat
a. Media internet untuk menggalang dana atau donasi.
b. Penggunaan media sosial untuk sarana promosi penjualan.
c. Memakai aplikasi meeting untuk rapat RT.
d. Menggunakan grup di media sosial untuk menyebarkan informasi yang tepat
dan kredibel.
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat.

E. DAMPAK LITERASI DIGITAL
Dampak positif
1. Semakin mudah dan efisien untuk mencari sumber informasi
2. Untuk membantu proses pembelajaran.
3. Mempermudah transaksi di bidang ekonomi
Dampak negatif
1. Memiliki kebergantungan dengan dunia digital dan hampir seluruh waktunya asik
dengan dunia digital, atau lebih sering disebut dengan kecanduan.
2. Adanya pornografi
3. Digunakan sebagai tempat untuk penipuan
4. Peretasan
Contoh kasusnya pada saat ini siswa lebih mudah untuk mencari jurnal-jurnal
yang valid, mudah dan praktis ditemukan sumbernya yang digunakan untuk
membantu mengumpulkan informasi dan materi-materi, tetapi karena hal tersebut
siswa tidak bisa kreatif dalam menangkap sebuah informasi karena dengan
adanya media digital semua diperoleh dengan mudah dan instan.

BAB II
PEMAHAMAN LITERASI DIGITAL

A. JENIS LITERASI DIGITAL
Literasi digital terbagi atas empat komponen yaitu pendukung literasi,
pengetahuan latar belakang, kompetensi utama dan sikap serta perspektif.
a. Komponen pendukung berupa literasi itu sendiri, dan literasi komputer, informasi,
dan teknologi komunikasi.
b. Pengetahuan latar belakang ini dapat dibagi menjadi dunia informasi dan sifat
sumber daya informasi.
c. Kompetensi utama berupa pemahaman format digital, evaluasi informasi,
perakitan pengetahuan, literasi informasi, litersi media.
d. Sikap dan perspektif, ini merupakan hal yang menciptakan tautan antara konsep
baru literasi digital dengan gagasan lama tentang literasi
 

B. PROSES LITERASI DIGITAL
Proses literasi digital antara lain gerakan literasi digital di dalam keluarga, gerakan
literasi digital di masyarakat, gerakan literasi digital di lingkungan sekolah. kemampuan
dalam berfikir secara aktif, kreatif, kritis dan positif dengan memakai bahan digital setiap
saat maka budaya literasi digital dikeluarga perlu ditanamkan sejak dini. Strategi
gerakan literasi digital di keluarga, cara yang paling pas dan tepat dalam
mengembangkan literasi digital di dalam keluarga dimulai dari ayah dan ibu, karena
mereka berdua seyogyanya menjadi contoh literasi dalam menggunakan bahan digital.
Kedua orang tua wajib menciptakan suasana lingkungan sosial yang komunikatif dalam
keluarga, terutama terhadap putra-putrinya.
Proses literasi digital antara lain gerakan literasi digital di dalam keluarga, gerakan
literasi digital di masyarakat, gerakan literasi digital di lingkungan sekolah.
a. Gerakan literasi digital di dalam keluarga, antara lain sasaran gerakan literasi
digital dalam keluarga. Agar anak-anak dapat meningkatkan kemampuan dalam berfikir secara aktif, kreatif, kritis dan positif dengan memakai bahan digital setiap saat
maka budaya literasi digital dikeluarga perlu ditanamkan sejak dini. Strategi gerakan
literasi digital di keluaraga, cara yang paling pas dan tepat dalam mengembangkan
literasi digital di dalam keluarga dimulai dari ayah dan ibu, karena mereka berdua
seyogyanya menjadi contoh literasi dalam menggunakan bahan digital. Kedua orang
tua wajib menciptakan suasana lingkungan sosial yang komunikatif dalam keluarga,
terutama terhadap putra-putrinya.
b. Gerakan literasi digital di masyarakat.
Literasi digital yang ada di masyarakat bertujuan untuk mengajarkan kepada
masyarakat dalam penguasaan teknologi dan komunikasi atau jaringan inrternet
secara bijak dan kreatif dalam menemukan, menilai, menggunakan, dan mengelola
informasi.
c. Gerakan literasi digital di sekolah.
Literasi digital sekolah harus dikembangkan sebagai mekanisme pembelajaran
terintegrasi dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem belajar
mengajar. Siswa perlu ditingkatkan keterampilannya, guru perlu ditingkatkan
pengetahuan dan kreativitasnya dalam proses pengajaran literasi digital, dan kepala
sekolah perlu memfasilitasi guru atau tenaga kependidikan dalam mengembangkan
budaya literasi digital sekolah antara lain :
1. Penguatan kapasitas fasilitator
2. Peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu
3. Perluasan akses sumber belajar bermutu dan cakupan peserta belajar
4. Peningkatan pelibatan publik
5. Penguatan tata kelola.
Adapun kompetensi literasi digital yang efektif untuk diterapkan
dilingkungan sekolah ada beberapa tahapan sebagai berikut : Mengakses,
Menyeleksi, Memahami, Menganalisis, Memverifikasi, Mengevaluasi,
Mendistribusikan, Memproduksi, Berpartisipasi, dan Berkolaborasi.


BAB III 

PENERAPAN LITERASI DIGITAL

A. TAHAPAN LITERASI DIGITAL
Tahapan-tahapan literasi antara lain:
a. Literasi tidak sebatas membaca dari dari bahan bacaan berupa buku, melainkan harus
lebih jauh yaitu berupa bahan digital. Literasi tidak melulu sebuah aktivitas baca dan
tulis, tetapi juga keahlian berasumsi memakai bahan-bahan pengetahuan berjenis
buku cetak, bahan digital dan auditori. Pemahaman pola literasi ini perlu diberikan
kepada masyarakat.
b. Memberikan penelusuran internet di seluruh daerah. Walaupun saat ini adalah eranya
“dunia maya” tetapi tidak sedikit daerah dinusantara ini yang tidak dapat menelusuri
melalui peranti komputer dan internet. Dengan mempersiapkan penelusuran piranti
komputer dan internet, sehingga literasi akan semakin gampang.
c. Penerapan rancangan literasi di seluruh institusi pendidikan.
Kemendikbud menyimpulkan gerakan literasi secara komprehensif, yaitu literasi dasar,
literasi perpustakaan, literasi media, litasi teknologi dan literasi visual. Sejauh ini, yang
bisa menelusur tentang pengetahuan literasi sebatas murid, mahasiswa, petugas
perpustakaan, guru, dosen dan lainya. Maka aktivitas literasi yang dicanangkan
Kemendikbud seharusnya dimotivasi. Berawal dari aktivitas literasi di lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, dan aktivitas literasi berskala nasional.
d. Membangkitkan cinta dan rasa memiliki terhadap fakta, kebenaran dan ilmu
pengetahuan. Hal tersebut wajib terlaksana dalam aktivitas baca tulis yang
diselaraskan dengan verifikasi, baik membaca bahan digital maupun manual.
e. Masyarakat wajib membaharui pola kehidupannya yang dimulai dari kebiasaan tutur
kata menjadi kebiasaan membaca.
Adapun langkah-langkah literasi digital agar sekolah mampu mengembangkan
budaya literasi digital dengan baik yakni :
1. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi hal ini dapat dilakukan dengan
memasang hasil karya ilmiah peserta didik melalui media digital seperti majalah
dinding, walpeper, dan desain poster di sudut-sudut sekolah. Kegiatan tersebut
dilakukan secara rutin agar tercipta suasana budaya literasi dilingkungan sekolah.
2. Menciptakan lingkungan social sekolah sebagai bentuk komunikasi literat.
Lingkungan sosial sekolah dapat dikembangkan dengan cara pemberian
penghargaan atas pencapaian prestasi peserta didik dalam menghidupkan budaya
literasi digital di lingkungan sekolah, seperti pemberian penghargaan, mengadakan
seminar ilmiah dan penyelenggaraan festifal buku.
3. Menciptakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Sekolah harus
program dan pelaksanaan gerakan literasi digital di sekolah termasuk membentuk
tim literasi sekolah yang bertugas untuk mengatur jalannya perencanaan,
penerapan, pelaksanaan, dan menentukan program.


B. PERAN LITERASI DIGITAL
Literasi digital memiliki peran yang sangat penting dalam tercapainya tujuan belajar,
literasi digital mampu memperkaya wawasan digital peserta didik karena mendorong
peserta didik untuk mencari sumber referensi. Puspito menjelaskan sembilan kategori
dalam dunia literasi digital sebagai berikut :
1. Tersedianya situs internet dan jejaring sosial.
2. Kemampuan menggunakan platform yang berbeda
3. Mampu menjaga privasi dalam bersosial media
4. Mampu menggunakan identitas yang benar
5. Terampil mempublikasikan konten edukatif di berbagai aplikasi
6. Mengatur dan mengidentifikasi berbagai konten.
7. Mampu membuat konten baru dari media digital
8. Mampu mencari, mengakses, menyaring, memilih informasi dengan benar
9. Mampu mengeshare gagasan pembelajaran atau karya ilmiah pribadi.

Melewati literasi digital, warga sekolah (peserta didik dan guru) diharapkan semakin
produktif dalam menghasilkan karya seperti membuat jurnal ilmuah, menulis artikelartikel yang kemudian dibagikan ke internet, hingga pengembangan teknologi. Delapan
contoh literasi digital disekolah yang dapat diterapkan adalah :
1. Peserta didik dianjurkan membaca melalui aplikasi digital
2. Peserta didik dianjurkan membuat literasi digital (aplikasi digital/media
digital/konten digital) untuk mendukung kegiatan program keahlian
3. Guru mengajak para perserta didik untuk menulis lewat aplikasi digital
4. Sekolah menyediakan kelas virtual bagi peserta didiknya
5. Warga sekolah berkomunikasi menggunakan teknologi digital
6. OSIS menggunggah kegiatannyaa melalui blog
7. Pihak sekolah aktif mengelola website
8. Sekolah membuat akun Instagram untuk media informasi

BAB IV

4 PILAR LITERASI DIGITAL

Peta jalan (roadmap) bertajuk Roadmap Literasi Digital 2021–2024 telah diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Dalam peta jalan tersebut, dirumuskan empat pilar literasi digital yang penting untuk mengenalkan dan memberikan pemahaman mengenai perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Berikut ini adalah 4 Pilar Literasi Digital dimaksud:

  1. Digital Skills (Cakap Digital)
    Digital skills berbicara tentang kecakapan dalam memahami teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dari segi perangkat lunak dan keras, serta sistem operasi digital. Merujuk kepada buku Modul Cakap Bermedia Digital (2021), ada empat indikator dalam pilar digital skills ini. Indikator yang pertama ialah pengetahuan dasar tentang lanskap digital, internet, dan dunia maya.

Indikator pertama, pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaannya, dan pemilahan data. Ketiga, pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial. Keempat, pengetahuan dasar mengenai aplikasi dompet digital, lokapasar (market place), dan transaksi digital.

  1. Digital Culture (Budaya Digital)
    Digital culture merupakan pilar literasi digital mengenai kemampuan untuk membangun wawasan kebangsaan ketika berinteraksi di ruang digital. Pilar ini menekankan bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan nilai-nilai yang harus dijadikan sebagai landasan kecakapan digital.

Pilar ini bertujuan untuk menciptakan aktivitas pengguna digital Indonesia agar tidak keluar dari wawasan kebangsaan. Di dalam indikatornya juga terdapat poin mengenai digitalisasi kebudayaan melalui pemanfaatan TIK, pengetahuan dasar yang mendorong kecintaan terhadap produk dalam negeri dan kegiatan produktif lainnya, serta memahami hak-hak digital (digital rights).

  1. Digital Ethics (Etika Digital)
    Pilar ini fokus membahas etika ketika menggunakan teknologi digital. Digital ethics dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri, berpikir rasional, dan mengutamakan netiket (etika berinternet). Sesuai namanya, indikator pertama dari pilar digital ethics adalah mampu memahami dan menerapkan netiket dalam kehidupan digital.

Indikator yang kedua adalah pengetahuan dasar seputar informasi dan konten negatif, seperti hoaks, ujaran kebencian, pornografi, dan perundungan. Sementara itu, indikator ketiga menekankan pada pengetahuan dasar untuk berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi di ruang digital sesuai kaidah etika yang berlaku. Terakhir, indikator terkait pengetahuan dasar untuk berinteraksi dan bertransaksi secara elektronik.

  1. Digital Safety (Keamanan Digital)
    Digital safety merupakan kemampuan seseorang menyadari dan meningkatkan perlindungan dan keamanan data pribadinya. Untuk itu, ada lima indikator dalam pilar digital safety. Pertama, mengetahui fitur proteksi perangkat keras. Kedua, paham terkait proteksi identitas digital dan data pribadi di platform digital.

Sementara itu, indikator yang ketiga adalah pengetahuan dasar mengenai penipuan digital. Keempat, paham rekam jejak digital di media (mengunduh dan mengunggah). Kelima, memiliki minor safety atau keamanan sederhana. Misalnya dengan memahami catfishing, yakni kegiatan penipuan (seperti berpura-pura menggunakan identitas lain) yang dilakukan secara daring.

Tidak hanya untuk remaja dan orang dewasa, literasi digital juga perlu dikenalkan kepada anak usia dini. Hal ini karena anak-anak tersebut lahir di era paparan teknologi digital atau disebut sebagai digital native. Pengenalan literasi digital sejak dini dapat membuat anak-anak lebih cakap dan melek terhadap teknologi yang ada di hadapan mereka.

 

BAB V PROJEK

A. MEMBUAT PROGRAM KERJA
Meliputi :
1. Penyusunan Tim (Struktur Organisasi, job deskripsi dan bagan peran)
2. Tujuan, periode dan jadwal kegiatan
3. Perencanaan projek
4. Judul/tema
5. Analisa projek
6. Membuat literasi digital sesuai dengan program keahlian masing-masing.
7. Penerapan Dimensi Profil Pelajar Pancasila
8. Penerapaan Budaya kerja 5R
9. Presentasi
10. Evaluasi termasuk Refleksi


DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Sri. 2021. Strategi Peningkatan Literasi Digital Dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam Di SMKN 3 Metro. Tesis. Program Pascasarjana Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Metro.
Anggeraini, Yentri, Abdurrachman Faridi, Januarius Mujiyanto, dan Dwi
Anggani Linggar Bharati. 2019. Literasi Digital: Dampak dan Tantangan dalam
Pembelajaran Bahasa. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana ISNN 2686-6404.
Universitas Negeri Semarang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja Peserta Didik Esay

Kumpulan Soal Uji Kompetensi SMK 2021/2022